Rabu, 30 Desember 2015

Hati-hati ‘Pakaian Muslimah’ yang Memperlihatkan Bentuk Tubuhmu


Menjelang lebaran seperti ini pasti banyak sekali mode-mode pakaian yang malah mengatakan itu “pakaian muslimah”. Jika memang pakaian itu sesuai sunnah Nabi, tidak masalah, ini malah kebalikannya kan? Nama itu hanya sebagai cover untuk dagangan mereka.

Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai kaum Muslimah, baik remaja maupun dewasa mengenakan pakaian Muslimah dengan berbagai warna, corak dan model.

Jika kita cermati, tidak semua kaum Muslim memiliki pandangan yang jelas tentang pakaian Muslimah. Faktanya, banyak perempuan yang mengenakan kerudung hanya menutupi rambut saja, sedangkan leher dan sebagian lengan masih tampak.

Ada juga yang berkerudung tetapi tetap memakai busana yang ketat, misalnya, sehingga lekuk tubuhnya tampak. Yang lebih menyedihkan adalah ada sebagian kalangan yang masih ragu terhadap pensyariatan Islam tentang pakaian Muslimah ini.

Di samping itu, masih banyak juga di yang memahami secara rancu kerudung dan jilbab. Tidak sedikit yang menganggap bahwa jilbab adalah kerudung dan sebaliknya. Padahal, jilbab dan kerudung adalah dua perkara yang berbeda.

Rasulullah bersabda,

“Para perempuan yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam era globalisasi yang seolah membuat dunia tanpa sekat ini, umat Islam perlu waspada akan maraknya fashion yang jauh dari nilai-nilai Islam. Banyak umat Islam terutama perempuan muslim yang terjebak dalam arus modernisasi. Berbagai fashion yang jauh dari unsur Islami banyak ditawarkan kepada umat Islam.

Mulai dari mode pakaian yang terbuka menampakkan auratnya, lalu mode busana yang sangat menerawang sampai kepada mode busana sempit yang menonjolkan sex appeal-nya. Hal ini perlu di waspadai oleh umat Islam karena pada dasarnya busana atau pakaian berfungsi sebagai penutup aurat dan tidak menjurus pada kesombongan atau pemborosan.

Rasulullah telah memperingatkan :

“Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada orang yang memakai kainnya (pakaian) karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Urgensi Menutup Aurat

Aurat merupakan bagian anggota badan yang wajib ditutup (haram jika diperlihatkan) kepada orang yang tidak berhak melihatnya. Allah SWT telah mewajibkan laki-laki maupun perempuan untuk menutup auratnya sesuai dengan ketentuan Islam. Allah SWT berfirman (yang artinya) :


“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu…” (QS. Al-A’raf: 26)

Memakai pakaian dengan niat untuk menutupi aurat merupakan suatu bentuk ketaatan manusia kepada Allah SWT. Bilamana menutup aurat merupakan suatu ketaatan, maka memakai pakaian yang mendedahkan aurat merupakan suatu keingkaran. Tuntutan menutup aurat tidak boleh di pandang ringan. Ancaman dan balasan Allah SWT terhadapa mereka yang tidak melaksanakan tuntutan menutup aurat adalah sangat keras.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Batasan Aurat Perempuan

Batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangannya.

Dari Khalid bin Duraik: ‘’Aisyah RA, berkata: ‘’Suatu hari, asma binti abu bakar menemui Rasulullah SAW dengan menggunakan pakaian tipis, beliau berpaling darinya dan berkata: ‘’wahai asma’’ jika perempuan sudah mengalami haid, tidak boleh ada anggota tubuhnya yang terlihat kecuali ini dan ini, sambil menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangan.’’ (HR. Abu Daud).

Ketika seorang perempuan muslim sudah mengetahui akan batasan-batasan auratnya, maka sudah selayaknya perempuan muslim tersebut melaksankan perintah Allah SWT yaitu menutup auratnya sesuai dengan aturan Islam.

Allah SWT dalam Al Qur’an Surat an-Nur ayat 31 telah berfirman, yang artinya:

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman:” Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”

Dalam firman di atas, telah jelas bahwasannya Allah telah memerintahkan kaum perempuan untuk mengenakan jilbab atau hijab. Jilbab atau hijab tersebut fungsinya sebagai penutup aurat. Maka sudah selayaknya kaum perempuan taat kepada perintah Allah SWT salah satunya dengan mengenakan hijab atau jilbab yang sesuai dengan aturan Islam. Adapaun seruan untuk mengenakan jilbab atau hijab terdapat pula dalam firman Allah SWT surat Al Ahzab ayat 59 (yang artinya):


“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sesungguhnya firman di atas merupakan bukti bahwa dalam hukum Islam, perempuan sangatlah mendapatkan perhatian. Adanya perintah bagi perempuan untuk mengenakan jilbab bukanlah untuk mengekang kebebasan akan tetapi sebagai pelindung agar tidak tergelincir pada lumpur kemaksiatan.

Berjilbab atau Berhijab yang Baik dan Benar 

1. Niat berjilbab hanya kerena Allah SWT.

2. Jilbab atau hijab yang baik adalah yang dapat menutup aurat perempuan secara sempurna. Adapun yang termasuk aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

3. Memakai jilbab atau hijab yang tidak transparan.

4. Memakai jilbab atau hijab yang longgar dan tidak menampakkan bentuk tubuh

5. Menghindari pemakaian model jilbab kepala yang menyerupai punuk unta

Sebarkanlah artikel ini ke semua temanmu jika kamu merasa bermanfaat. Wallahu A’lam. [HP – Sebarkanlah.com]

Selasa, 29 Desember 2015

Kisah: Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia!


Mari jadikan kisah berikut ini sebagai pelajaran, untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Apapun kondisinya. Bagaimanapun caranya. Terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, namun tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam penerapannya? Syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. Apabila yang berlabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sekadar berlabel ‘orang awam”?

“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang perempuan yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan perempuan dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelaki nya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelaki nya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”



“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.” (akhwatmuslimah)

Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses Berbisnis

ADA orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Bagaimana bisa?

Jawabannya ada pada hadits berikut ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].


Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.


Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.


Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.

Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.

Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalatnya, puasanya, bagaimana ketaatannya untuk tunduk pada aturan Allah, dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.


Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?

Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan.

Catat!! Agar Tetap Berenergi Selama Puasa, Konsumsi Makanan Berikut ini

Saat Anda menjalankan ibadah puasa seperti pada saat bulan Ramadhan ini, perut akan diistirahatkan untuk kegiatan makan dan minum dari subuh hingga waktu maghrib. Untuk menjaga agar tubuh terus berenergi dan terhindar dari dehidrasi hingga matahari tenggelam, maka umat Islam perlu untuk menyantap makanan yang tepat pada saat sahur.

Seorang ahli nutrisi Nour El-Zibdeh membagikan tipsnya kepada Anda seperti yang dilansir dalam laman Buzzfeed pada Rabu (17/6/2015). Berikut ini tips makanan yang harus dikonsumsi selama berpuasa:

Konsumsi Serat
Pastikan dalam menu sahur Anda terdapat serat yang berfungsi agar merasa kenyang lebih lama dan menjaga usus tetap sehat. Sumber serat terbaik adalah kacang-kacangan, beras cokelat, biji-bijian, oatmeal, sayuran, buah beri, pir dan apel.

Asupan Protein
Protein dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi dan menunda rasa lapar Anda hingga waktu magrib tiba. Sumber terbaik protein yakni telur, yoghurt, kacang-kacangan, kedelai, ikan, dan ayam.

Sumber Lemak Sehat
Makanan ini membantu Anda kenyang lebih lama seperti avokad, kacang, selai kacang, zaitun, dan minyak zaitun. Jika bisa, hindari makanan yang digoreng saat sahur. Dan pebih baik makan makanan yang direbus.

Buah
Pilih buah asli dibandingkan jus buah yang kaya gula. Jatuhkan pilihan pada buah yang kaya serat yang akan membuat Anda merasa kenyang lebih lama. Ditambahkan pendapat dari Ketua PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof Hardinsyah bahwa buah yang kaya serat untuk sahur adalah stroberi, mangga atau jeruk.

Air Putih
Jangan lupa minumlah air putih minimal dua gelas saat sahur agar menjaga tubuh terus terhidrasi. Boleh juga tambahkan sayuran kaya air seperti timun, tomat, selada air.

Madu
Madu sudah diakui khasiatnya baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Madu juga merupakan makanan kesukaan tauladan umat Islam, yakni Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Anda tidak terbiasa minum madu secara langsung, bisa juga dicampurkan dengan air putih.



Semoga info ini bermanfaat dan bisa menjadi sarana bagi Anda untuk lebih meningkatkan amal ibadah di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan kemuliaan ini.

Tindakan Perhatian Nenek yang Mengakibatkan Bayi Umur 2 Hari Ini Diamputasi…

Bayi yang baru lahir masih sangat lemah, bila tidak berhati-hati sedikit saja, akan terjadi masalah!
Tiantian, seorang bayi yang baru lahir, karena terlalu diproteksi hingga akhirnya harus kehilangan tangan kanannya. Maksud baik nenek menjadi sebuah bencana.

Di cuaca dingin, nenek takut dia flu, lalu memakaikan baju katun untuk Tiantian, tapi sepertinya terlalu longgar, maka nenek mengambil karet dan mengareti bagian siku Tiantian. Lalu saat ayahnya siap-siap mau memandikan Tiantian, melihat tangan kanannya berubah ungu dan bengkak.

Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter memberitahu bahwa hal ini disebabkan oleh ikatan karet tersebut, dan menyuruh mereka untuk berobat ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap, tapi kemungkinan besar tetap harus diamputasi, karena seluruh lengannya berubah ungu, dingin, maka mau sembuh total itu tidak mungkin.

Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan tangan Tiantian, tapi saraf dan ototnya sudah rusak, berarti tangan kanan itu sudah cacat. Kejadian ini sungguh membuat setiap orang menyesal seumur hidup.



Hal-hal di bawah ini tidak boleh dilakukan terhadap bayi, bila melihat kejadian serupa, harus cepat-cepat cegah!

Inilah Bahayanya Makan Mie Campur Nasi

Mie merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh banyak orang, apalagi mie instan. Mie ini sangat mudah kita buat, selain itu ini merupakan salah satu makanan wajib saat berpergian. Namun ketika mi kita konsumsi dengan nasi, gangguan kesehatan akan muncul.

Banyak orang Indonesia yang mengatakan sebelum makan nasi namnya tetap belum makan. Padahal banyak sumber karbohidrat pengganti lain selain nasi. Salah satunya adalah mie. banyak sekali jenis mie yang sering kita temui, mulai dari mie ayam, mie aceh, mie bangka, mie kocok, mie tarik, mie telur, mie bakso, mie keriting, dan masih banyak lagi.

Salah satu mie yang menjadi favorit adalah mie instan, selain karena mie ini mudah dibuat, kita juga dapat membawanya saat menginap atau piknik, rasanya pun sangat enak.



Namun ada beberapa orang yang akan mengkonsumsi mie dengan menggunakan nasi. Namanya orang Indonesia, pastilah apa-apa menggunakan nasi agar perut kenyang.

Dalam hal ini mie digunakan sebagai lauk pauk atau pelengkap saat dirumah tidak ada makanan.

Namun siapa sangka cara tersebut bisa mengundang gangguan kesehatan pada tubuh. Karena pada dasarnya kedua jenis makanan tersebut yaitu mie dan nasi sama-sama merupakan sumber karbohidrat.

Mie dan nasi memiliki jumlah kalori yang sangat banyak jika kedua makanan tersebut digabungkan, maka kita akan mengkonsumsi 600 - 700 kalor hanya untuk sekali makan, padahal dalam sehari kita hanya membutuhkan 1200 - 1500 saja.




Bahaya dari kombinasi mengkonsumsi mie dengan nasi adalah karena banyaknya kalori yang akan ada di tubuh kita. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya peningkatan resiko kegemukan pada tubuh. Dan yang lebih parah lagi adalah resiko terkenanya diabetes.




Bukan hanya diabetes dan kegemukan, hanya dengan makan nasi dan mie saja tidak memiliki cukup gizi yang baik bagi tubuh.

Ditambah lagi mie instant itu sendiri memiliki kandungan MSG yang sangat tidak baik jika masuk ke dalam tubuh apalagi jika dalam jumlah yang banyak.

Jika memang kita terpaksa harus mengkonsumsi mie, ada baiknya campurkan mi bukan dengan sumber karbohidrat lagi, karena mie memang merupakan salah satu sumber karbohidrat.

Campurkanlah mie dengan sayur-sayuran, telur, ayam, daging, bakso, sosis, atau apaun yang memang baik untuk kesehatan seperti mengandung protein, vitamin, nutrisi, dan juga gizi

Mualaf Palsu ini Menipu di Banyak Masjid, Silakan Kenali Wajahnya...!

Foto-foto seorang ‘mualaf’ beredar di media sosial. Ia menjadi populer karena sedang dicari oleh Mualaf Center Indonesia untuk dibina lantaran tertangkap kamera di beberapa masjid mengaku sebagai mualaf untuk mendapatkan sejumlah uang.

Hanny Kristianto, salah seorang pembina mualaf diMualaf.com (Mualaf Center Indonesia), mengunggah beberapa foto seorang pria yang mengaku sebagai mualaf.

Ia datang ke sejumlah masjid dengan menggunakan nama dan KTP yang berbeda.

“Di Masjid Pondok Indah ber-KTP bernama Simon saragih... mengaku butuh uang untuk pulang ke medan..” kata Hanny Kristianto melalui akun Facebooknya, “Di Masjid Marinir Cilandak ber-KTP bernama Herry Sibutar Butar.. mengaku baru keluar penjara karena membunuh ketika ikut Hercules..”






Dari foto yang diunggah Hanny memang sekilas terlihat penampilan berbeda antara Simon Saragih dan Herry Sibutar Butar.

Namun jika diperhatikan baik-baik, dua orang yang berpenampilan berbeda itu ternyata memiliki wajah yang sama.

Tidak menutup kemungkinan ia datang ke masjid lain dengan KTP dan nama berbeda lagi.

“Intinya bisa mengaku bernama siapa saja, yang pasti berlogat batak dan ini foto orangnya..,” tambahnya.

Oleh karena itu Hanny meminta Takmir Masjid untuk menyebar wajah yang ia sebut sebagai “penyusup misionaris” ini. Ia juga berkeinginan membina pria tersebut melalui Mualaf Center Indonesia.



“Sekiranya berkenan, jika tertangkap mohon dilaporkan ke Sekretariat Bakorpa atau www.mualaf.com/pembinamualaf atau ke saya.. Sungguh saya ingin membina beliau ini..,” katanyanya seraya mengucapkan terima kasih.